Review Film Dokumenter: Samin vs Semen



Air, tanah, dan pangan. Itulah kebutuhan yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat di Perkampungan Sukolilo, Pati, Jawa Tengah. Daerah yang memiliki jejak historis “Mbah Samin” yang dikenal berani menolak membayar pajak pada masa kolonial Belanda. Semangat tersebut nampkanya masih diturunkan hingga sekarang yang mana masyarakat setempat sedang berjuang untuk kemerdekaan atas tanahnya yang sedang dijajah oleh pabrik semen.

Modernisasi yang terjadi di Indonesia memberikan dampak kepada semua lapisan masyarakat. Termasuk masyarakat pedesaan yang sebagian besar melangsungkan hidupnya dengan cara bertani. Kebanyakan masyarakat pada daerah pedalaman tersebut masih menjaga kearifan lokalnya. Kearifan lokal tersebut digunakan guna menjaga keseimbangan alam yang digarapnya untuk bertani. Kehidupan masyarakat modern di kota yang membutuhkan semen membutuhkan lahan untuk dijadikan pabrik produksinya, dan pabrik tersebut didirikan diatas tanah-tanah warga yang kehidupannya bertani. Dengan adanya pembangunan pabrik semen di atas tanah masyarakat yang kesehariannya bertani tentu saja akan menghilangkan kearifan lokal yang ada pada daerah tersebut. 

Pada bidang pendidikan, modernisasi tidak menyentuh masyarakat Samin, sebab mereka memiliki kearifan lokal untuk tidak memerlukan pendididkan formal karena mereka tidak menginginkan pangkat dan jabatan. Menurut mereka esensi dari pendidikan yang penting mengerti, tidak perlu pintar jika hanya digunakan untuk mengakali. Pendidikan yang penting adalah memperbaiki tindakan dan perkataan. Bahkan uniknya masyarakat mereka yang tidak mengenyam pendidikan formal dapat memahami perihal amdal dan proses hukum yang mana mereka berhasil memenangkan gugatan atas tuntutan kepada P.T. Semen Gresik di PTUN pada tahun 2009. 

Modernisasi juga memiliki dampak pada kehidupan multikultural Indonesia. Masyarakat multikultural merupakan masyarakat yang sangat heterogen. Multikultural baik secara budaya, agama, ekonomi, dan lain-lain. Film ini menggambarkan dampak modernisasi dalam keragaman aspek ekonomi masyarakat Indonesia. Adanya modernisasi terlihat seakan akan ingin menghilangkan multikultural dalam bidang ekonomi yang ada di Indonesia. adanya modernisasi membuat semua masyarakat seakan dipakasa untuk hidup dengan cara industri yang mana bagi masyarakat kecil mereka hanya akan mengalami lebih banyak penderitaan seperti yang dijelaskan dalam film tersebut yang terjadi di daerah Tuban, Jawa Timur.

Film ini juga bicara mengenai lingkungan hidup, film dokumenter ini secara garis besar menggambarkan bahwa modernisasi seringkali tidak berjalan seirama dengan lingkungan hidup. Kebutuhan masyarakat modern akan semen untuk kehidupannya berdasarkan film ini ternyata dapat dipenuhi dengan rusaknya lingkungan. Film ini jelas menggambarkan bahwa pabrik-pabrik semen senantiasa berusaha untuk melakukan pembebasan lahan pertanian dan dialihkan untuk menjadi industri untuk produksi semen. Bahkan menurut pemaparan salah satu warga disana sebenarnya terdapat aspek cacat hukum dalam penerbitan amdal pembangunan tersebut, namun anehnya meskipun memiliki cacat hukum izin amdal pembangunan di lingkungan tersebut tetap keluar. Digambarkan dalam film tersebut kondisi wilayah yang sudah menjadi lahan pabrik semen dan yang masih hijau asri dengan sawahnya terlihat sangat timpang. Lahan milik pabrik yang dimiliki oleh orang-orang yang berpendidikan tinggi terlihat lebih tidak memperdulikan lingkungannya dibanding lahan yang dikelola oleh masyarakat desa yang memiliki sangat banyak keterbatasan. Sekali lagi, modernisasi terlihat telah mendegradasi moral dalam menjaga keseimbangan alamnya.

Film yang mengambil sudut pandang dari petani tersebut terlihat ditindas oleh gabungan aparat yang merupakan kaki tangan dari pemerintah dan korporasi. Konflik pembebasan lahan memang sudah menjadi suatu momok bagi bangsa Indonesia ini. Menurut saya hal ini terjadi sebab pemerintah tidak memahami apa kebutuhan dari masyarakat. Indonesia sebenarnya sudah memiliki konsep desentralisasi untuk menjawab masalah ini. Menurut state society relationship berpandangan bahwa desentralisasi dapat dijadikan sebagai sebuah alat untuk mencapai sebuah tujuan besar yakni demokrasi, kesejahteraan, dan kemamkmuran rakyat. Namun hal ini memang tidak dapat berjalan seperti teorinya sebab penerapan sistem desentralisasi ini masih memiliki ketergantungan atas suatu rezim yang sedang berkuasa saat ini. Hal ini dijelaskan dalam kritik perspektif neo-institusional yang mengatakan bahwa kebijakan desentralisasi di Indonesia tidak mencerminkan nilai-nilai demokrasi karena penerapan desentralisasi tidak berdasarkan pada kepentingan masyarakat daerah melainkan hanya dikuasai oleh institusi-institusi berwenang. Seharusnya, hubungan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah didasarkan pada prinsip saling ketergantungan dan saling membutuhkan (Hidayat, 2008: 6).

Maka dari itu, menurut saya disini pentingnya kepekaan dan adanya interaksi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan masyarakat. Interaksi antara masyarakat dan negara harus berjalan dinamis dan dilakukan secara dua arah dalam hal pengambilan keputusan dan penerapan kebijakan sehingga kesejahteraan yang memang memiliki kekhasannya masing-masing tiap daerah dapat terpenuhi dan juga menjadi refleksi bahwa kebijakan desentralisasi tersebut sudah efektif.

Sumber Film : https://youtu.be/1fJuJ28WZ_Q

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fenomena Baru Globalisasi: Pandemi Corona dan Dampaknya terhadap Interaksi Sosial Masyarakat Indonesia

Siapa Saya?