[Kritik Tanpa Solusi, Wajarkah?]


Mengkritik merupakan sebuah hal yang wajar dalam kehidupan sosial sehari-hari. Kritik biasanya berbentuk verbal maupun nonverbal yang ditujukan kepada suatu kebijakan publik, instansi, bahkan pribadi sekalipun yang mungkin merupakan seseorang yang memiliki kewenangan atas hajat hidup masyarakat luas, baik dalam komunitas kecil seperti lingkungan kampus maupun yang lebih kompleks seperti negara. Lalu muncul sebuah pertanyaan "apakah wajar jika kita mengkritik sesuatu tanpa memberikan solusi atas apa yang kita kritik tersebut?".

Tanggapan atas triggered question tersebut dapat memiliki beberapa perbedaan, terlebih mungkin perbedaan perspektif antara pengkritik dan orang yang menerima kritik tersebut. Saya secara pribadi pernah berada pada dua posisi tersebut dan saya pun memiliki jawaban yang berbeda saat saya berada pada dua peran yang berlawanan tersebut. Saat saya berada pada posisi pengkritik, saya cenderung menekankan pada substansi yang akan saya kritik, sesudah dari kritik tersebut ada solusi atau tidak itu bukan menjadi tanggung jawab saya. Berbeda saat saya berada pada posisi sebagai orang yang menerima kritik. Alam bawah sadar saya memaksa kepada pengkritik untuk tidak hanya sekadar mengkritik melainkan juga memberikan saran atau masukan atas hal yang dikritiknya tersebut.

Satu pesan yang ingin saya sampaikan pada tulisan ini, bukan bicara pentingnya saran pada suatu kritik melainkan bijaklah dalam mengkritik dan dewasalah saat menerima kritik.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Film Dokumenter: Samin vs Semen

Fenomena Baru Globalisasi: Pandemi Corona dan Dampaknya terhadap Interaksi Sosial Masyarakat Indonesia

Siapa Saya?